Iklan

 


,

 


Widget Banner (label produk)

Widget Banner (label produk)

Featured Post

Margareth Siagian Tampil di Perayaan Natal Perkumpulan Marga Siagian se-Jabodetabek

Foto: Margareth ‘Mammamia’ Siagian, saat di panggung Perayaan Natal Punguan Raja Siagian Dohot Boruna se-Jabodetabek   JAKARTA (wartamerde...

Widget HTML #1

 


Widget HTML (label produk)

Widget HTML (label jasa)


Widget Banner (label jasa)

Widget Banner (label jasa)

Menu Halaman Statis

Iklan

 


Ada Pedagang Jahat Mainkan Harga Gula & Bawang Putih

Sabtu, 07 Maret 2020, Maret 07, 2020 WIB Last Updated 2020-03-07T02:53:41Z

JAKARTA (bisnismerdeka.com) - Kenaikan harga beberapa komoditas pangan seperti bawang putih dan gula sudah terasa sejak awal Februari 2020. Harga bawang putih tembus Rp 45.000-60.000 per kilogram (kg), sedangkan gula Rp 14.000-15.600/kg.

Menurut Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), Suhanto, beberapa daerah terutama di luar Pulau Jawa menjerit karena kenaikan harga bahan pokok tersebut.

"Terus terang, di grup stabilisasi harga yang anggota Dinas Perdagangan seluruh Indonesia, saya memantau betul bagaimana kawan-kawan di daerah menjerit. Harga bahan pokok khususnya gula dan bawang putih sedang naik," kata Suhanto dalam dalam Rapat Koordinasi Implementasi SIPAP Nasional, di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Terutama semenjak kabar virus corona menyebar mulai dari China. Suhanto mengatakan, hal itu dimanfaatkan para oknum untuk menyebar isu tak ada importasi bawang putih dan gula. Sehingga, kekhawatiran akan pasokan menipis merebak, dan kenaikan harga pun terjadi.

"Rupanya pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab tahu betul bahwa produk-produk ini khususnya bawang putih 90% diimpor dari China. Bahkan 90% china menguasai persediaan bawang putih di dunia. Sehingga dengan informasi corona seolah-olah tidak ada pergerakan bawang putih dari daratan China ke daratan lain," ucapnya.

Selain itu juga, para oknum ini sengaja menimbun pasokan.

"Yang terjadi, beberapa pelaku usaha yang tidak bertanggung jawab menyimpan barangnya, karena harapannya dengan kekurangan bahan pokok tersebut di lapangan harga akan naik, dan ternyata ini ampuh bagi mereka, harga benar-benar naik," ungkap Suhanto. (A/dt)

Iklan