Iklan

 


,

 


Widget Banner (label produk)

Widget Banner (label produk)

Featured Post

Margareth Siagian Tampil di Perayaan Natal Perkumpulan Marga Siagian se-Jabodetabek

Foto: Margareth ‘Mammamia’ Siagian, saat di panggung Perayaan Natal Punguan Raja Siagian Dohot Boruna se-Jabodetabek   JAKARTA (wartamerde...

Widget HTML #1

 


Widget HTML (label produk)

Widget HTML (label jasa)


Widget Banner (label jasa)

Widget Banner (label jasa)

Menu Halaman Statis

Iklan

 


Corona Mencekam, Wall Street Jatuh Lagi

Kamis, 12 Maret 2020, Maret 12, 2020 WIB Last Updated 2020-03-12T00:05:21Z

JAKARTA (bisnismerdeka.com) - Pasar keuangan Indonesia berakhir variatif pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan, sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan.

Kemarin, IHSG finis dengan pelemahan 1,28%. IHSG bernasib serupa dengan mayoritas indeks saham Asia.

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di Rp 14.340/US$ kala penutupan pasar spot. Sama persis dengan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Rupiah beruntung masih bisa stagnan karena mata uang Tanah Air nyangkut di zona merah hampir seharian.

IHSG, rupiah, dan pasar keuangan Asia ditinggalkan investor karena kecewa dengan dinamika rencana stimulus fiskal, terutama di AS. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menjanjikan bakal ada stimulus besar seperti tidak ada penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh).

"Kami akan mendiskusikan mengenai penurunan tarif PPh. Akan ada penurunan yang substansial, sangat substansial. Angkanya besar," kata Trump, seperti diwartakan Reuters.

Namun setelah menyerahkan proposal ke Kongres, belum ada kejelasan lebih lanjut mengenai rencana stimulus tersebut. 'Penonton' pun kecewa.

"Mentalitas berburu aset-aset berisiko jadi turun. Pasar agak kecewa dengan penundaan paket stimulus di AS, yang dijanjikan Selasa," kata Margaret Yang Yan, Analis CMC Market, seperti diberitakan Reuters.

Sementara dari dalam negeri, laju pasar keuangan Indonesia agak terbeban oleh pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo. Perry mengungkapkan BI bakal menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini.

"Dengan penyebaran virus corona di negara-negara maju, kami harus melakukan kalkulasi ulang. Dalam RDG berikutnya, angka proyeksi (pertumbuhan ekonomi) akan lebih rendah," ungkap Perry.

Dalam RDG Februari 2020, BI sudah menurunkan perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun ini dari 5,1-5,5% menjadi 5-4,4%. Untuk kuartal I-2020, BI memperkirakan ekonom Tanah Air tumbuh di bawah 5%. (cnbc)

Iklan