Oleh: Danny PH Siagian SE MM
(Pemerhati Sosial Ekonomi)
TAK ada yang dapat memprediksi sebelumnya, bahwa serangan virus Corona (Covid 19) begitu dahsyat. Bukan saja virus yang dapat mematikan manusia, tapi juga bisa melumpuhkan perekonomian suatu Negara.
Dan apa jadinya jika Ibukota Negara DKI Jakarta yang sekaligus menjadi pusat bisnis yang notabene peredaran uang Nasional sekitar 70% di Lockdown? Tentu sangat banyak imbas yang akan ditimbulkannya. Termasuk sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya ditargetkan Pemerintah sebesar 5,3%. Belum lagi inflasi yang sangat mungkin akan mengalami kenaikan.
Bisa kita bayangkan, jika Jakarta yang saat ini memang sangat tinggi penularan Virus Corona, di Lockdown, yang mengakibatkan ditutupnya arus masuk dan keluar wilayah. Tentu, urat nadi perekonomian bisa shock atau kontraksi, dan akan terjadi kelumpuhan. Dapat dipastikan akan berimbas kuat terhadap wilayah Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi), serta daerah-daerah lainnya.
Jangankan di Lockdown. Sedangkan diliburkan saja kegiatan di Jabodetabek selama 2 (dua) minggu, siklus perekonomian rakyat sudah nyaris lumpuh. Para pekerja dibidang jasa transportasi sangat terpukul, karena himbauan Pemerintah untuk mengisolasi diri di rumah. Secara otomatis, orang takut berkegiatan diluar, yang menimbulkan pengguna jasa transportasi angkutan sangat sepi (seperti angkot, ojol), sehingga mengakibatkan penghasilan di bidang ini anjlok.
Demikian juga banyak bidang lainnya, seperti: Gedung-gedung pertemuan; Hotel-hotel; Restoran yang terpaksa membatalkan acara-acara Pesta Pernikahan; Pesta-pesta Kekeluargaan atau Kekerabatan; Acara Reuni; Family Gathering dan Rapat-rapat hingga Seminar misalnya. Tentu, yang tadinya gedung atau hotel maupun restoran itu akan terima uang pelunasan, terpaksa terhenti hanya di DP (Down Payment) yang sebelumnya.
Transaksi di Bursa Efek Indonesia juga sangat terpukul, karena aktivitas dan kegiatan perusahaan-perusahaan yang ada di lantai bursa menjadi sangat terganggu, sehingga mengakibatkan sentimen pasar, dan kemudian berpengaruh besar terhadap tren harga saham yang kecenderungannya terus menukik. Rupiahpun belakangan makin melemah menuju angka Rp. 16.000-an terhadap dollar.
Dalam kondisi yang tidak di Lockdown pun, secara nyata harga-harga sudah beranjak naik bahkan melambung tinggi. Contoh kecil saja, harga tempe yang tadinya Rp. 7.000,- langsung meroket jadi Rp. 14.000,- (naik 100%) di salah satu pasar di kota Bekasi. Alasan penjualnya, adanya kelangkaan kacang kedele, yang menjadi bahan baku pembuatan tempe. Tak tertutup kemungkinan di pasar-pasar lainnya dirasakan masyarakat bawah khususnya.
Demikian juga harga sayur-mayur, gula, kopi, telor dan sembako lainnya, yang perlahan tapi pasti harganya menanjak dalam kurun waktu seminggu setelah diumumkannya berkegiatan dari rumah. Belum lagi pengumuman dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang menyatakan masa kerawanan terjangkitnya penularan virus Corona, hingga akhir Mei 2020. Bagaimana lagi jadinya?
Lockdown Sebagai Buah Simakama
Memang, jika ingin pencegahan yang sangat akurat dan meyakinkan, tentu pastilah Lockdown menjadi pilihan. Karena dengan demikian, DKI Jakarta akan terisolasi, dan pengobatan akan lebih bisa ditangani secara gotong-royong dan terpusat, serta statistik korban juga akan cenderung dapat dikendalikan.
Demikian juga pencegahan-pencegahannya, akan lebih mudah terdeteksi dan terukur, seperti yang sudah dilakukan Pemerintah di berbagai tempat. Misalnya dengan aksi penyemprotan berbagai wilayah secara bergiliran, terutama di area-area yang terindikasi adanya yang sudah menjadi korban.
Namun, sebagaimana dikatakan Ekonom dari Center of Reform on Economics (CoRE) Indonesia, Piter Abdullah, bila Indonesia pada akhirnya menerapkan Lockdown akibat wabah virus corona (Covid-19), maka dampaknya akan buruk bagi perekonomian. Khususnya sektor informal, akan kehilangan penghasilan. Sektor produksi juga akan terganggu karena banyak produk yang akan berkurang pasokannya.
Demikian juga dikatakan Peneliti ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira memprediksi, Indonesia bisa terkena krisis ekonomi apabila Jakarta diisolasi.
Dikatakan, ada banyak aspek bisa dilihat, yaitu soal ketimpangan yang akan terjadi. Bagi kaum berduit kota atau kelas menengah atas, Lockdown tak jadi persoalan, karena mereka bisa mampu menimbun stok pangan di rumah dalam jumlah besar. Namun bagaimana dengan orang-orang tak mampu, pengangguran atau orang-orang yang mendapatkan kebutuhan sehari-hari dari kerja harian, dampaknya tentu akan terasa bila Lockdown dilakukan.
Mencermati argumen dari kedua Peneliti Ekonomi tersebut, maka opsi Lockdown tentu bukan lagi menjadi pilihan. Karena akan justru menimbulkan imbas yang akan berakibat fatal terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat Jakarta khususnya, yang berpenduduk sekitar 10,4 juta orang, dan berimbas pula terhadap 23,4 juta penduduk Bodetabek (total penduduk Jabodetabek 33,76 juta orang).
Dan yang sulit dibayangkan, jika terjadi adalah kondisi rush, dimana masyarakat akan berlomba-lomba menarik uang dari bank secara serentak, dan melakukan pembelian barang-barang kebutuhan pokok serta kesehatan secara serempak pula. Hal ini akan menimbulkan gejolak harga yang meroket dan kelangkaan barang-barang konsumsi di masyarakat. Efeknya, bisa saja terjadi kerusuhan yang mengarah terhadap penjarahan dan efek negatif lainnya.
Jadi, seandainyapun Lockdown terpaksa harus ditempuh, maka segala sesuatu yang berkaitan dengan kebutuhan penanganan Corona, baik pasokan obat-obatan, alkes (alat-alat kesehatan), SDM, dan faktor-faktor lain yang berkaitan, haruslah sudah tersedia. Sebab tidak mungkin lagi ada arus masuk dan keluar dalam kondisi tersebut.
Selain itu, ketersediaan untuk kehidupan masyarakat, terutama sembako, sudah harus diperhitungkan cukup memenuhi kebutuhan penduduk sepanjang berapa bulan ditentukannya masa memerangi wabah virus Corona, hingga kemudian ditetapkan clear. Dan hal ini tentu membutuhkan anggaran yang tidak tanggung-tanggung dari Pemerintah, dan akan sangat berpengaruh terhadap keuangan Negara. Tinggal pilih!
Rakyat dan Pemerintah Harus Gotong-royong
Apa yang sudah dilakukan Pemerintahan Presiden Jokowi sejak Februari 2020 lalu bersama seluruh jajarannya, rasanya sudah sangat tepat. Dengan fokus menanggulangi mereka yang positip kena virus Corona di berbagai Rumah Sakit; Mengatasi berbagai kekurangan alat kelengkapan penanggulangan Corona; Mengumumkan cara mengantisipasi makin beredarnya virus Corona secara menyeluruh; Menyemprot dengan disinfektan beberapa wilayah terindikasi Corona; dan lain-lain.
Bahkan belakangan ini, memperluas penyediaan tempat-tempat penanganan pasien-pasien baru, seperti penyiapan Wisma Atlet Kemayoran dapat menampung 24.000 orang calon pasien yang terkena virus Corona yang mematikan itu. Belum lagi RS Pertamina Jaya, Hotel Patra Jasa Jakarta; dan Rumah-rumah Sakit lainnya yang memperluas kesiapan fasilitasnya.
Dan yang paling gres lagi, Pemerintah sudah memesan obat bernama Avigan sebanyak 5.000, dan saat ini dalam proses pemesanan sebanyak 2 juta. Avigan sudah diberikan pada pasien positif Covid-19 di Jepang sejak Februari. Obat lainnya adalah Chloroquine yang telah siap sebanyak 3 juta, melalui resep dokter.
Presiden Jokowi dalam Konperensi Persnya mengatakan, obat-obatan tersebut akan sampai kepada pasien yang membutuhkan melalui dokter keliling dari rumah ke rumah, melalui rumah sakit dan puskesmas di kawasan yang terinfeksi. Luar biasa penanganan Pemerintah dalam melawan serangan virus mematikan ini.
Oleh sebab itu, kendati menurut data hingga 23 Maret 2020 terdapat 579 pasien yang dinyatakan positif terpapar Corona dan sementara yang meninggal 49 orang (8,4%) dan yang sembuh 30 orang (5,0%), namun upaya dan antisipasi yang dilakukan Pemerintah nampaknya sudah berjalan dengan sangat progresif dan terasa di mayarakat.
Tidak perlu lagi selalu nyinyir terhadap Pemerintah. Sebab peristiwa ini juga tidak diinginkan dan tidak pernah diduga sebelumnya. Pemerintah bertanggungjawab terhadap Negara dan rakyatnya, dan rakyat juga harus bertanggung jawab terhadap dirinya, keluarganya dan lingkungannya. Ini namanya baru gotong-royong. Bukan di gotong-gotong atau di goreng-goreng persoalannya seperti selama ini.
Tentu, yang dibutuhkan dari masyarakat adalah, secara bersama-sama berusaha menghindari meluasnya penyebaran virus Corona, dengan mematuhi himbauan Pemerintah untuk menunda sementara interaksi dalam kerumunan banyak orang, selalu melakukan protokoler kesehatan yang petunjuknya sudah diberikan; lebih rajin mandi atau membersihkan diri, menggunakan hand sanitizer, menggunakan masker, berjemur di sinar matahari, mengkonsumsi vitamin D3 untuk memperkuat antibodi, dan masih banyak lagi. Termasuk sementara melakukan kegiatan dari rumah masing-masing.
Bagaimana caranya masyarakat juga berkontribusi untuk membendung atau menghadang kenaikan grafik korban tertular, sehingga secara statistik korban juga bisa tidak meningkat lagi. Atau setidaknya, masyarakat membantu laju kenaikan yang terpapa menjadi melambat. Mendukung situasi dan kondisi yang lebih kondusif, hingga tidak banyak membuang energi. Termasuk selektif dalam menyebarkan berita-berita di medsos yang sering membuat kepanikan baru.
Dalam hal ini, mematuhi himbauan Pemerintah Pusat, maupun Pemerintah daerah di berbagai provinsi, kabupaten/kota seperti yang dijelaskan diatas, menjadi sangat penting dan menentukan. Selain yang utama membentengi diri dengan cara hidup yang lebih higienis, serta selalu berdoa kepada Tuhan memohon perlindunganNya. Semoga badai cepat berlalu...


