NEW YORK (bisnismerdeka.com) - Harga minyak mentah dunia menguat pada perdagangan Selasa (13/5/2020) didorong komitmen tak terduga Arab Saudi mengurangi produksi mulai bulan Juni guna menekan kelebihan pasokan di pasar global akibat minimnya permintaan menyusul pandemi virus corona (Covid-19).
Minyak mentah berjangka patokan AS, West Texas Intermediate (WTI) naik US$ 1,64, atau 6,8 persen, menjadi US$ $ 25,78 per barel. Sementara minyak mentah berjangka Brent naik 35 sen, atau 1,18 persen menjadi US$ 29,98 per barel.
Arab Saudi akan memangkas produksi hingga 1 juta barel per hari (bph) mulai Juni, sehingga secara total akan mengurangi produksinya menjadi 7,5 juta bph, turun hampir 40 persen dari April.
"Pengurangan produksi ini memberikan sinyal sangat baik mendorong anggota OPEC+ lainnya untuk mematuhi dan bahkan mendorong pemotongan tambahan secara sukarela sehingga mempercepat pasar minyak global lebih seimbang," kata Kepala Strategi Pasar Global AxiCorp, Stephen Innes, mengatakan dalam sebuah catatan.
OPEC+ adalah grup yang terdiri dari anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen lain termasuk Rusia.
Uni Emirat Arab dan Kuwait berkomitmen untuk memangkas produksi 180.000 barel per hari secara total.
Namun langkah-langkah pemangkasan produksi lebih lanjut menimbulkan pertanyaan sebagian orang. “Itu sangat tiba-tiba, apakah ini kebijakan proaktif atau hanya reaksi terhadap permintaan yang lemah?” kata ekonom pertambangan dan energi Commonwealth Bank, Vivek Dhar.
Pemotongan produksi yang dikombinasikan dengan pelonggaran lockdown yang mendorong pemintaan bahan bakar secara bertahap akan mengurangi tekanan kapasitas penyimpanan minyak mentah.
Namun setelah kasus Covid-19 muncul lagi di Tiongkok dan Korea Selatan, pasar waspada terhadap gelombang kedua yang akan memacu kembali lockdown. "Di sisi permintaan mungkin ada pandangan bahwa yang terburuk mungkin sudah kita lewati. Namun jika melihat gelombang kedua, maka akan mengurangi permintaan dan menurunkan harga,” kata Dhar dari Commonwealth Bank.
Persediaan minyak mentah AS kemungkinan naik sekitar 4,3 juta barel dalam pekan hingga 8 Mei, sebuah jajak pendapat pendahuluan menunjukkan, jelang laporan kelompok industri American Petroleum Institute pada Selasa dan Administrasi Informasi Energi AS pada Rabu.(*)


