Iklan

 


,

 


Widget Banner (label produk)

Widget Banner (label produk)

Featured Post

Margareth Siagian Tampil di Perayaan Natal Perkumpulan Marga Siagian se-Jabodetabek

Foto: Margareth ‘Mammamia’ Siagian, saat di panggung Perayaan Natal Punguan Raja Siagian Dohot Boruna se-Jabodetabek   JAKARTA (wartamerde...

Widget HTML #1

 


Widget HTML (label produk)

Widget HTML (label jasa)


Widget Banner (label jasa)

Widget Banner (label jasa)

Menu Halaman Statis

Iklan

 


Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Sangat Berat, Bahkan Akan Terjadi Ancaman Resesi

Rabu, 17 Juni 2020, Juni 17, 2020 WIB Last Updated 2020-06-16T19:22:49Z

Foto: Ilustrasi pertumbuhan ekonomi negatif

JAKARTA, bisnismerdeka.com
Menteri Keuangan Sri Mulyani memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 mencapai -3,1 persen.

Indonesia menghadapi ancaman resesi karena pertumbuah ekonomi negatif diperkirakan akan terus berlanjut hingga kuartal III 2020.

Sri Mulyani mengatakan, secara teknis suatu negara bisa dikatakan mengalami resesi jika pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi atau negatif selama dua triwulan berturut-turut.

Dia mengakui, realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal I 2020 sebesar 2,97 persen menunjukkan tendensi kinerja ekonomi Indonesia menuju skenario sangat berat. Dalam skenario sangat berat yang dibuat oleh pemerintah tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan mencapai -0,4 persen.

Dia mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 sangat berat. Hal itu bisa dilihat dari perlambatan bahkan kontraksi ekonomi di berbagai sektor termasuk manuufaktur. Kondisi tersebut juga turut mempengaruhi pemasukan negara melalui pajak.

“Semua lembaga ekonomi memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan negatif pada triwulan II bahkan hingga -6 persen. Namun pemerintah memprediksikan bahwa pertumbuhannya berada di kisaran -3,1 persen,” ujar dia, dalam konferensi pers APBN KiTa secara daring di Jakarta, Selasa, 16 Juni 2020.

Sri Mulyani, mengatakan, kondisi paling berat dari pertumbuhan ekonomi berada di bulan April dan Mei. Sementara geliat ekonomi mulai menunjukan optimisme pada Juni 2020.

Meskipun demikian, menurut dia,  kondisi tersebut diperkirakan belum akan mendongkrak ekonomi Indonesia hingga di level positif pada triwulan III 2020.

“Resesi itu kan jika dua triwulan berturut-turut mengalami pertumbuhan negatif.  Kita berupaya untuk menjaga agar pertumbuhan ekonomi mendekati nol persen meskipun masih kontraksi. Dengan demikian, secara teknik Indonesia tidak tergolong mengalami resesi,” ujar dia.

Meskipun demikian, Sri Mulyani optimistis jika pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhanakan berada di level positif. “Karena di triwulan I kan 3 persen, dan nanti akan ada pemulihan ekonomi di triwulan III yang berlanjut hingga triwulan IV,” ujar dia.

Dia mengatakan, ketidakpastian pemulihan ekonomi saat ini masih tinggi. Salah satunya karena dibayangi oleh ancaman gelombang kedua penyebaran Covid 19.

“Kita lihat di negara lain seperti di Cina yang sudah ada penularan sejak Desember, mereka langsung melakukan penutupan ketat di Wuhan sehingga kurva pertumbuhan penyakitnya melandai. Namun saat ini kembali muncul outbreak di Beijing,” ujar dia.

Situasi pelemahan ekonomi global dan Indonesia berpengaruh terhadap kinerja pendapatan negara. Sampai dengan akhir bulan Mei 2020, realisasi pendapatan negara dan hibah telah mencapai Rp664,32 triliun. Angka capaian pendapatan negara dan hibah tersebut tumbuh negatif 9,02 persen (yoy).

Sri Mulyani mengatakan, hampir seluruh jenis pajak utama terkontraksi karena penerimaan di Mei yang cukup dalam akibat perlambatan kegiatan ekonomi dan pemanfaatan insentif fiskal dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Sementara itu, penerimaan seluruh sektor usaha di Januari hingga Mei 2020 tumbuh negatif. Ini berkebalikan dengan Januari-April 2020 di mana Industri Pengolahan dan Jasa Keuangan dan Asuransi masih tumbuh positif.

Kegiatan produksi melambat akibat terbatasnya suplai bahan baku impor dan pembatasan kegiatan produksi akibat Covid-19. Volume penjualan barang dan jasa pada berbagai sektor juga sangat tertekan akibat PSBB, menurunnya daya beli, serta perubahan pola spending-saving masyarakat dalam menghadapi pandemi.

Dia menambahkan, realisasi Belanja Pemerintah Pusat hingga 31 Mei 2020 mencapai Rp537,3 triliun, lebih tinggi 1,2 persen dari realisasi APBN 2019. Peningkatan kinerja realisasi Belanja Pemerintah Pusat tersebut antara lain dipengaruhi oleh realisasi bantuan sosial yang mencapai Rp78,85 triliun atau tumbuh 30,71 persen (yoy). Pertumbuhan realisasi bantuan sosial di tahun 2020 dipengaruhi oleh penyaluran berbagai program Jaring Pengaman Sosial (JPS) yang dilakukan Pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19. DANS/PR

Iklan