PERNAH main ke Solo?
Di Solo, ada yang namanya Pasar Klewer yang banyak jualan batik dan kain-kain.
Dari Pasar Klewer tersebut, Surya Abadi Garmindo memulai keputusan terbaiknya.
Tahun 2008 silam, setiap pukul 5 pagi, Andreas Pitoyo sudah siap-siap di Pasar Klewer dengan membawa sejumlah dagangan yang akan dibawanya berjualan secara door-to-door.
Mengabaikan teriknya kota Solo, Ia menawarkan batik dan kain-kain Bali dari satu kampung ke kampung lainnya.
Pekerjaan ini dilakoninya selama 3 tahun.
Selain jadi makelar dan dijual secara door-to-door, batik-batik lokalan tadi dijualnya ke Purwokerto.
Serta, Ia juga jadi supplier untuk kain-kain yang akan dijual di Bali.
Jadi sebenarnya.. banyak kain-kain Bali yang bahkan asalnya dari daerah lain seperti Solo.
Dan dulu, Andreas adalah salah satu suppliernya.
“Mas, kantor saya mau tamasya. Tolong bikinin baju seragam ya!”
Setelah berjalan 3 tahun, Andreas mendapat banyak pesanan dari rekan-rekannya. Seperti seragam untuk kantor, dan untuk acara-acara promosi dalam partai besar.
Andreas mengerjakan pesanan dengan kapasitas produksi 5-10 penjahit dengan mesin jahit yang baru sanggup menyewa saja.
Pesanan-pesanan kecil ternyata bisa membawanya ke rezeki yang lebih besar.
Kualitas konveksi yang diberikan Andreas dan timnya akhirnya dikenal dari orang ke orang.
Semakin banyak yang mengenal, semakin banyak yang mempercayakan pesanan baju ke Andreas.
Bisnis konveksinya akhirnya berkembang lagi dengan menambah kapasitas produksi jadi 24 mesin yang sudah dibelinya sendiri.
Perjalanan Bisnisnya Tidak Semulus Kain Jahitannya
Bisnis konveksi Andreas juga tidak lekang oleh ujian dan cobaan.
Tidak pernah ada bisnis yang sukses dari laut yang tenang tanpa gelombang.
Banyak masalah telah dilewatinya dengan baik.
Mulai dari orderan lesu, hingga kebanyakan orderan dan akhirnya rekrut orang asal-asalan hanya supaya bisa memenuhi pesanan.
Perjalanan panjang Andreas Pitoyo serta timnya kini telah menghasilkan sebuah bisnis konveksi yang sustain dan patut diperhitungkan.
Dengan nama Surya Abadi Garmindo, Andreas bersama 125 karyawan dan 130 mesin jahitnya terus menerima orderan hingga ribuan.(*)


