Iklan

 


,

 


Widget Banner (label produk)

Widget Banner (label produk)

Featured Post

Margareth Siagian Tampil di Perayaan Natal Perkumpulan Marga Siagian se-Jabodetabek

Foto: Margareth ‘Mammamia’ Siagian, saat di panggung Perayaan Natal Punguan Raja Siagian Dohot Boruna se-Jabodetabek   JAKARTA (wartamerde...

Widget HTML #1

 


Widget HTML (label produk)

Widget HTML (label jasa)


Widget Banner (label jasa)

Widget Banner (label jasa)

Menu Halaman Statis

Iklan

 


Benarkah Nama Besar Rumah Sakit PGI Cikini Akan Tergusur Kalkulasi Bisnis?

Senin, 14 Juni 2021, Juni 14, 2021 WIB Last Updated 2021-06-17T10:35:54Z

 

Foto (ist): Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta dan para perawat yang selalu siap melayani dengan kasih 

 

JAKARTA, bisnismerdeka.com

Nama besar sebagai jatidiri Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat (RS PGI Cikini) yang telah eksis selama 123 tahun, nampaknya akan tergusur desakan kalkulasi bisnis. Benarkah tak lagi hanya urusan medis?.

Pasalnya, rencana masuknya investor, katanya akan mengubah ‘image dan performance’ RS PGI Cikini yang selama ini sudah sangat dekat dengan masyarakat Indonesia, bahkan mancanegara. Hal ini ditengarai akibat selama bertahun-tahun belakangan, RS PGI Cikini selalu mengalami defisit.

Ini artinya, Visi dan Misi RS PGI Cikini sejak berdiri, yang menetapkan motto: “Sedare Dolorem Opus Divinum Est” yang terjemahannya, ‘Meringankan penderitaan adalah pekerjaan Ilahi dan Pelayanan kesehatan sebagai jawaban dan kesaksian iman Pelayanan Kesehatan Kristiani,’ sangat mungkin tergerus dengan pola hitung-hitungan bisnis.

Diketahui, RS PGI Cikini berdiri sejak 12 Januari 1898 sebagai RS Ratu Emma (Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini). RS Cikini didirikan oleh Ny. Adriana Josina de Graaf-Kooman, istri misionaris Belanda, dengan tujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan masyarakat tanpa memandang kedudukan dan untuk semua suku, bangsa, dan agama.

Yang menjadi pertanyaan besar, kenapa Yayasan Kesehatan PGI Cikini yang menaungi RS PGI Cikini, melalui para Direksinya, langsung membuka peluang masuknya calon investor? Apakah sudah benar dan tepat solusi yang dipilih tersebut, atau masih ada solusi lain yang lebih sesuai dengan Visi-Misi RS PGI Cikini? 

Yang lebih parah lagi isunya, nama RS PGI Cikini akan tergusur, ditambah lagi hak pengelolaan lahan RS seluas 5,6Ha itu, akan dikuasai investor. Rencananya pula, dengan penggunaan lahan seluas 4,5 hektar, akan dibangun gedung satu hektar, dan akan ada perparkiran yang sangat luas.

Dalam sebuah perbincangan dengan beberapa Dokter senior, di bilangan Jakarta Pusat, Kamis, 10 Juni 2021 lalu, salah seorang dokter yang sudah 50 tahun mengabdi, dr. Tunggul D. Situmorang, SpPD, KGH Dipl./ M.Med. Si Nephr (UK) mengatakan, jangan sampai RS PGI Cikini hilang.

“Jangan sampai Rumah Sakit PGI Cikini menghilang dari dunia ini. Jika itu sampai terjadi, maka selesai sudah riwayatnya. Tentu ini sangat tragis dan prihatin,” ungkapnya kepada awak media siang itu (10/06/2021).

Tunggul D. Situmorang, mantan Direktur R.S PGI Cikini ini juga justru sangat heran, kenapa kebijakan seperti itu yang ditentukan Pembina Yayasan.

“Saya juga heran sekali. Ada apa dengan kebijakan seperti itu? Sesungguhnya, sangat penting dan serius untuk dikaji, apakah harus dengan cara menggadaikan eksistensi nama besar RS PGI Cikini yang menjadi solusi terbaik, dengan masuknya investor? Atau hanya soal manajemen yang betul-betul harus profesional yang menangani, tanpa harus merubah image yang menjadi jatidiri maupun performance? Pertimbangan apa yang dibuat? Sudah sejauh mana audit dan verifikasi yang dilakukan? Apakah diagnosisnya sudah diyakini betul-betul, sehingga hal itu yang menjadi pilihan?,” katanya justru mempertanyakan.

Dokter Tunggul dan kawan-kawannya sesama senior di RS PGI Cikini itu, merasa terpanggil untuk turut menyelamatkan RS yang penuh sejarah itu, karena juga dirinya merasa banyak berhutang pada RS PGI Cikini, yang selama ini memberinya kesempatan meningkatkan keilmuan dan pengalamannya.

“Terus terang saya sangat merasa berhutang kepada RS PGI Cikini, yang telah memberi banyak kesempatan bagi saya untuk mengembangkan ilmu dan pengetahuan dan kualitas diri, dalam meningkatkan pelayanan optimal kepada masyarakat. Tentu saya dan kawan-kawan senior merasa terpanggil,” bebernya.

Dikatakan Tunggul D. Situmorang, dirinya mendapat kesempatan menjadi ahli Penyakit Dalam, meningkatkan keilmuannya meraih Diploma dan S-2 ke Inggris,dan menjadi Konsultan Ginjal Hipertensi  karena kepercayaan dan kesempatan yang diberikan manajemen RS PGI Cikini. Tentu juga atas dukungan Prof. dr.R.P Sidabutar yang menjadi perintis dan pionir ahli ginjal pada waktu itu.

Menurutnya, masih banyak yang perlu dibenahi secara internal, dalam rangka mengoptimalkan pelayanan kesehatan di RS PGI Cikini belakangan ini. Termasuk soal peluang dan pemberdayaan potensi yang dimiliki, penyediaan obat-obatan, sarana dan prasarana penunjang, regenerasi peralatan medis pendukung yang semakin hitech, dan sistem manajemen yang lebih beradaptasi terhadap tuntutan perkembangan teknologi digital dan informasi.

Sebab itu, dia berpendapat, bahwa diagnosis manajemen sangat strategis, sebagai kunci penentuan pengobatan maupun alternatif tindakan  selanjutnya.

“Jika diagnosis terhadap RS PGI ini salah, maka dipastikan tindakan yang diambil sebagai langkah selanjutnya juga akan salah,” tandasnya.

Ketika perihal adanya dugaan berbagai pihak, dimana pihak Yayasan Kesehatan PGI Cikini dan atau bersama PGI sendiri sejak tahun 2010 menempatkan para Direksi yang tidak berkompeten sehingga ‘by design’ merugi hingga bertahun-tahun, Tunggul mengatakan bisa jadi.

“Nah, itu dia? Kenapa RS tersebut makin berpengalaman dan banyak stakeholder, tapi makin lama makin merugi? Ini salah satu faktornya, karena menempatkan para Direksi yang tidak berkompeten. Atau setidaknya para pembuat keputusan  tidak serius atau bahkan tidak ada waktu dalam mengelolanya sejak periode 10 tahun terakhir. Karena sebelumnya hingga tahun 2010-an, pengelolaan dan pelayanan RS PGI Cikini berlangsung sangat baik dan menunjukkan prestasi-prestasi yang membanggakan. Keadaan saat ini, memang cukup ironis dan tragis,” tandasnya.

Karena itu, jika masih ingin eksis dan mengembalikan “kejayaan dan rekam jejak RS PGI Cikini” bahkan  untuk lebih maju ke depannya, tanpa mengorbankan visi, misi, tujuan dan motto atau falsafah yang ditetapkan para founder RS PGI Cikini, dibutuhkan transparansi, kejujuran dan ketulusan serta hikmat, dalam pengelolaan RS PGI ini.

“Agaknya perlu pengkajian dan telaah yang lebih detail dan mendalam, serta melibatkan seluruh civitas hospitalia, lintas professional terkait,  dan pertimbangan multi aspek  serta peran umat Kristiani yang terbeban untuk mengambil bagian dalam memulihkan RS PGI Cikini yang kita cintai ini,” pungkasnya.

Pandangan yang sama juga dilontarkan dokter spesialis bedah senior, dr. Tommy Halauwet, SpB, yang juga mantan Ketua Komisi Tinju Profesional Indonesia, dalam pertemuan tersebut. Bahkan dokter yang sudah puluhan tahun mengabdi di RS PGI Cikini itu sangat menyayangkan, bila pilihan PGI/Yayasan Kesehatan PGI Cikini akan mempersulit membangun image-nya kembali, apalagi jika dicampur-baurkan dengan unsur-unsur bisnis semata.

Dr. Tommy Halauwet sangat meragukan, jika penanganan ke depannya tidak tepat, apalagi adanya informasi mengenai rencana dibangunnya gedung baru dan sarana perparkiran yang membutuhkan area luas, yang sangat kental dengan orientasi bisnis.

“Pendapat saya dan rekan-rekan dokter lainnya, jika lebih dominan orientasinya ke arah bisnis, dengan penggunaan lahan seluas 4,5 hektar, dan infonya bangun gedung satu hektar, maka kita meragukan misi pelayanan kesehatan yang selama ini jadi ciri khas RS PGI Cikini, akan dapat dipertahankan,” bebernya.

Dikutip dari id.wikipedia.org/wiki/RSPGICikini, bahwa sebagian besar transplantasi ginjal di Indonesia, dilakukan di RS PGI Cikini oleh tim PDGH dan Urologi. Bahkan RS PGI Cikini pernah mendapatkan rekor MURI, sebagai Rumah Sakit Penyelenggara Transplantasi Ginjal dengan pasien transplantasi yang hidup paling lama.

RS PGI Cikini tercatat sebagai pelopor dalam melakukan hemodialisis (HD) dan juga CAPD (Continuos Ambulatory Peritoneal Dialisis) secara terintegrasi. RS PGI Cikini juga dikenal sebagai pusat pelatihan tenaga dokter umum dan perawat mahir dialisis, dan telah memberikan sumbangsih yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan SDM terkait dialisis diseluruh Indonesia.

Sedangkan Instalasi Saraf dirintis oleh alm. Prof. S.M.L. Tobing, dimana pada saat ini telah memiliki layanan penyakit saraf terpadu dengan kelengkapan diagnosis melalui MRI, EEG, dan EMG. Stroke Unit RS Cikini dengan 18 tempat tidur, dilengkapi fasilitas neurorestorasi, yang diresmikan oleh Ibu Negara Almh.Ibu Ani Yudhoyono pada tahun 2007 silam, dengan nuansa taman khas RS Cikini.

Rumah Sakit PGI Cikini ini sudah sangat dikenal masyarakat di se-antero Nusantara, khususnya dalam penanganan penyakit ginjal. Dengan Instalasi Ginjal yang dirintis Alm. Prof. dr. R.P. Sidabutar, SpPD-KGH sebagai unit Penyakit Dalam Ginjal dan Hipertensi (PDGH), diakui mampu menangani berbagai problem penyakit ginjal. Bahkan sejarah mencatat, Prof. R.P. Sidabutar dengan RS Cikini merupakan penyelenggara transplantasi ginjal terbanyak di Indonesia sampai tahun 2015.

RS Cikini berada di area tempat bersejarah ,yang sebelumnya merupakan rumah pelukis kenamaan Raden Saleh di Jalan Raden Saleh Nomor 40, Cikini, Jakarta Pusat. RS PGI Cikini memiliki kapasitas sekitar 350 tempat tidur, di kamar rawat bernuansa taman. 

Sejak awal didirikannya pada tahun 1898, Rumah Sakit swasta yang kini berada di bawah naungan Yayasan Kesehatan PGI Cikini ini, menerima pasien tanpa membedakan asal-usul, ras, agama, status sosial dan kebangsaan. Informasi terkini, ada 178 Dokter Spesialis yang tergabung di RS Cikini, selain 30-an Dokter Umum, dan didukung total karyawan, dokter, perawat dan bidan sebanyak 673 orang, untuk memberikan layanan kesehatan paripurna.

Dalam kesempatan tersebut, hadir juga beberapa dokter senior dan sejumlah dokter-dokter muda yang masih mengabdi di RS PGI Cikini. Mereka juga berharap, solusi yang akan ditetapkan nantinya tidak mengganggu pelayanan kesehatan yang menjadi prioritas, dan nama baik yang selama ini sudah kuat.

Sementara itu, dari berbagai informasi yang dihimpun, model pengelolaan yang mungkin sudah disetujui Yayasan Kesehatan PGI Cikini dengan calon investor dengan skema Build-Operate-Transfer (BOT), dimana penguasaan lahan akan menjadi hak pengelola. Namun hal ini tentu masih dalam penelusuran berikutnya. DANS

Iklan