
Foto: Situasi para preman di kampus UNKRIS, Jatiwaringin, Pondok Gede
JAKARTA, bisnismerdeka.com
Peristiwa
bentrok kelompok ormas tejadi di kampus Universitas Krisnadwipayana (UNKRIS),
Pondok Gede, Selasa siang (31/08/2021), sehingga menimbulkan ketidaknyamanan
para mahasiswa dan para karyawan serta dosen yang hadir.
Atas kejadian tersebut, Ketua Umum Badan Pengurus Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKEBA) UNKRIS, Dr. Nata Irawan, SH., M.Si prihatin dan menegaskan, agar kampus bebas dari pengaruh tindakan premanisme.
“Bebaskan kampus UNKRIS dari seluruh pengaruh dan tindakan premanisme. Kampus adalah tempat kuliah para adik-adik mahasiswa. Bukan tempat preman!,” ujarnya menjawab pertanyaan media, saat dikonfirmasi via selluler di Jakarta, Selasa (31/08/2021).
Dr. Nata Irawan tidak setuju jika kampus dijadikan sebagai ajang tindakan premanisme yang merugikan para peserta didik. Dirinya sangat menyayangkan terjadinya bentrok yang mengganggu ketenteraman aktivitas belajar-mengajar para mahasiswa siang tadi.
Selanjutnya Nata Irawan mengatakan, jika ada yang mencoba-coba membawa premanisme dunia ke kampus, agar segera dilaporkan ke pihak berwajib.
“Laporkan segera ke pihak berwajib, jika ada yang mencoba-coba membawa premanisme ke kampus UNKRIS,” tegasnya.
Terkait buntut peristiwa bentrok, pria low profile ini mengatakan, agar segala persoalan internal kampus dapat diselesaikan dengan bijak.
“Kami berharap, jika ada persoalan internal dalam dinamika kampus, agar diselesaikan secara bijak. Janganlah mengutamakan arogansi, hanya demi mempertahankan posisi dan jabatan, sementara disisi lain mengabaikan kebenaran dan keadilan“ tandasnya.
Mantan Dirjen Bina Pemerintahan Desa, Kementerian Dalam Negeri ini menghimbau, agar para alumni UNKRIS masih setia memperhatikan keberlangsungan kampus tercinta.
“Melalui momen ini, kami sekaligus menghimbau para sahabat alumni UNKRIS dimanapun berada, untuk masih tetap setia memperhatikan keberlangsungan kehidupan kampus tercinta. Karena alumni sangat dibutuhkan untuk turut menjaga kelanggengan institusi,” pungkasnya.

Foto: Situasi bentrok di kampus UNKRIS
Sementara
itu, pihak kepolisian melakukan pengamanan atas bentrok di kampus UNKRIS, untuk
mengupayakan situasi kembali kondusif.
"Kita masih mendalami, ini sebenarnya masalah internal, akhirnya diperalat orang-orang yang tidak bertanggung jawab, kasian ini anak-anak mahasiswa. Kita sudah arahkan jika ada korban lekas laporkan. Kami juga sudah lakukan penyisiran di wilayah akademik, maka untuk menjaga wilayah, kedua belah pihak diminta bergeser, sehingga kondisi kampus hanya ada berisi para akademisi," ujar Kompol Puji Hardi, Kapolsek Pondok Gede.
Adapun Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNKRIS, Dwiki Hendra Saputra mengatakan pihak mahasiswa mengecam adanya tindakan premanisme yang mendukung pihak-pihak yang sedang bersengketa.
"Saya atas nama ketua BEM UNKRIS sangat menyayangkan apa yg terjadi di lingkungan kampus kami. Atas peristiwa ini, saya mengecam adanya tindakan premanisme untuk mendukung pihak-pihak yang bersengketa," kata Dwiki.
Pihak mahasiswa menuntut bentrok yang terjadi di dalam lingkungan kampus diusut secara hukum karena mahasiswa dirugikan dan aktivitas belajar terganggu.
"Kami mahasiswa mengambil sikap netral dan meminta diusut segera secara hukum dan secepatnya. Kami memberi waktu 1x24 jam bila hal-hal yang tadi terjadi dan tidak ada orang yang bertanggung jawab di belakangnya, maka mahasiswa akan bergerak. Saya akan mengintruksikan agar mahasiswa UNKRIS untuk bergerak," tegas Dwiki.
Diketahui, sekelompok ormas dari luar kampus yang melakukan penyerangan terhadap para pegiat di kampus, yang diduga dipicu permasalahan internal pergantian Rektorat. Rektor yang sebelumnya masih menjabat, tiba-tiba disingkirkan pihak penentu di Yayasan UNKRIS tanpa alasan akurat.
Anehnya, pergantian Rektor kemudian dilakukan tanpa prosedur yang semestinya melalui keputusan Senat Guru Besar UNKRIS. Hal ini diduga menimbulkan ketidakharmonisan dalam pengelolaan kampus, yang berlarut-larut hingga sekarang. DANS

